Jalan Menuju Langkah Kita Sendiri

Fenomena industrialisasi dalam peradaban manusia memberikan kemudahan dan kecepatan dalam memecahkan masalah. Metode yang digunakan dalam industri cenderung berupa metode prosedural yang mudah diulang atau diubah menjadi bahasa mesin pada bagian-bagiannya sehingga mempermudah operasional. Proses ini tidak hanya terjadi pada industri tetapi juga pada pendidikan. Pendidikan dikatakan sebagai jalan menuju kemandirian. Namun, pendidikan sangat bergantung pada kurikulum yang dirancang sesuai dengan kebutuhan industri, bukan untuk membangun kreativitas. Hal ini menyebabkan pendidikan berfokus pada prosedur untuk menyelesaikan persoalan dengan menggunakan cara tercepat. Pendidikan pada masa kini juga cenderung memakai beragam perangkat berbayar daripada membangun perangkat itu sendiri sesuai dengan teori yang diajarkan. Sehingga, pendidikan menggunakan alat-alat yang umumnya terlalu mahal untuk menjelaskan sesuatu yang mudah.

Sistem pendidikan saat ini cenderung mengarah pada desain kurikulum yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan industri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa desain ini dapat membuat individu bergantung pada industri dan menggeser tujuan sebenarnya dari pendidikan, yaitu untuk menumbuhkan kemandirian. Metode pengajaran yang dirancang oleh desain kurikulum ini lebih berfokus pada melatih mesin daripada manusia, sehingga seolah sedang memprogram sebuah mesin agar bekerja sesuai dengan yang diinginkan. Pendidikan seharusnya berfokus pada membangun teori dan pemanfaatan teori tersebut, menampilkan berbagai warna, dan memberikan bimbingan bagi individu untuk mengembangkan sesuatu secara mandiri. Namun, dengan kurikulum yang terstandarisasi maka aspek ini jarang diberikan, sehingga lebih memprioritaskan kecepatan memperoleh hasil daripada proses penemuan. Pendidikan kemudian dipandang sebagai metode hafalan salin tempel, bukan lagi sebagai sarana berpikir kreatif dan inovatif

Saya memiliki kekhawatiran, terutama sekarang, merupakan era penggunaan AI, karena sangat membantu dalam memecahkan masalah, dan juga sangat mampu menyelesaikan semua masalah dan tugas yang diberikan oleh sistem pendidikan sekolah. Sehingga saya membangun tempat ini, sebagai upaya langkah pertama menuju bagaimana sesuatu yang dipikirkan dapat diciptakan, tentu saja berdasarkan karya tokoh-tokoh besar dalam sejarah peradaban manusia. Saya tidak hanya menjelaskannya, tetapi saya juga akan memberikan penjelasan yang dipermudah yang mungkin dapat membantu orang lain memahami cara melakukannya. Saya memulai perjalanan ini dengan mengalami kondisi keraguan selama beberapa tahun terakhir, dan saya juga mengalami beberapa kebingungan. Bagaimana semua rumus di sekolah akan memberi kita penemuan dan alat yang paling bermanfaat dalam hidup kita. Masalah utamanya adalah alat-alat tersebut tidak bebas untuk diduplikasi karena masalah hukum terkait hak cipta, lisensi, dan sebagainya.

Perjalanan menuju pemahaman ini akan panjang dan tidak secepat kurikulum sekolah, karena tujuan kita adalah membawa konsep paling dasar ke dalam perangkat yang lebih detail. Hal ini tidak ada dalam kurikulum apa pun, tetapi harus ada agar setiap orang dapat mengembangkannya secara bebas atau spesifik. Tidak ada jaminan bahwa jalan ini akan berhasil. Tetapi kita tidak akan tahu apakah suatu jalan akan berhasil jika kita tidak memulainya. Membuat kesalahan adalah hal yang wajar. Tidak ada jalan yang sempurna, semuanya dalam keadaan yang harus diselesaikan secara perlahan. Sehingga, kita harus memulai atau upaya ini tidak akan pernah terjadi pada peradaban manusia lainnya. Kita semua harus melakukan yang terbaik bersama-sama. Oleh karena itu, saya berharap Anda untuk berdiskusi di antara kita. Banyak hal yang muncul secara ajaib dalam hidup karena pemahamannya telah terputus atau digantikan oleh kurikulum prosedur yang kaku. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan ke makna aslinya sehingga seseorang dapat menentukan jalannya sendiri dan tidak bergantung pada standar kurikulum.

Tidak ada satu panduan pun yang berlaku untuk semua pengetahuan. Pengetahuan adalah hasil dari bagaimana seseorang bebas untuk memecahkan masalah, melihat masalah, dan membedakan masalah. Tidak ada standar yang disebut kurikulum. Tidak ada paksaan untuk menggunakan perangkat berbayar, perangkat yang ada harus mengklasifikasikan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jalan yang akan kita tempuh adalah jalan yang melihat bagaimana tokoh-tokoh besar ilmu pengetahuan di masa lalu melakukannya. Tujuan kita adalah untuk menghadirkan konsep yang pertama kali dapat dirujuk, dan konsep mana yang akan dijelaskan pasti memiliki kesubjektifan, saya akan menggunakan Elemen Euclid sebagai fondasi dan pendekatan awal terhadap realitas yang nanti harus digabungkan dengan koordinat-koordinat yang dibuat oleh Descartes.

Ilmu pengetahuan harus inklusif dan bukan eksklusif, pengembangan ilmu pengetahuan perlu dilakukan secara terbuka dan bebas bagi siapa pun tanpa belenggu tempat penerbitan karena setiap ilmu pengetahuan dalam upaya memverifikasinya dilakukan dengan mengujinya sendiri. Pengembangan ilmu pengetahuan membutuhkan fondasi sejarah tentang bagaimana ia terbentuk. Bukan hanya terpaku pada satu teori dengan teori lainnya. Setiap pengetahuan memiliki tautan, tetapi hubungan tersebut tidak langsung terjalin, melainkan dalam sebuah rantai untuk mencapai suatu tujuan tertentu.